My Blog List

SFI INSIGHTS by Gery Carson

Puisi

Menatap langit malam dan bintangbintang yang terbakar dimatamu, ah...inikah rasa itu, rasa memendam rindu yang tak kunjung bertemu....bunga setaman itulah dirimu, penghias sudut kota yang selalu berteriak saja adanya...
ya...itulah dirimu, tidak lebih tak kurang....cukup...sajalah...ah...gontai tak berperi...setengah hidup aku ini...kelana pasti...raja dari imaji...aku api...aku mimpi...aku lari...dari getir rasa sepi yang pongah...mungkin...takdirku ini,...tak bisa tercatat dalam sejarah bersamamu, dewi.

*

Adakah, ini...segurat sejarah...ah tidak...hanya kenangan basi seorang lelaki, berjalan denganmu ...impian pasi...

*

masihkah ada gadis kecilku disitu, dalam riuh rendah kota...dalam sekejap kenangan di hatiku, ya...kenangan ringkas saja, seperti binar matamu, atau kata kata biasa saja yang terucap dari bibirmu yang manis...

berilah aku pertanda melalui mimpi..atau lalu lalang orang-orang yang datang dan pergi...

*

pergilah...jika itu yang kau ingini...bahagialah dewi, ah...ini hanyalah mimpi...memiliki sesuatu seperti ini...dan wajahmu telah merangkai puisi dihati...

*

menafikan cinta,dalam dada yang pernah ada, namun tak sedikitpun pernah bersamanya...wahai dewi...bahagia. engkau telah menyihirku dengan indahmu, lalu kau pergi...menyisakan rasa yang hanya dapat tersembuhkan oleh hadirmu saja...

*

aku tahu, aku hanya bisa memberikan cinta biasa padamu, cinta yang dapat kau acuhkan saat engkau ada dalam deru peluk kekasihmu itu, siapalah diriku, tanpa nama yang ada dihidupmu yang indah,...tanpa jeda lamunanmu saat engkau merindukan dirinya...
siaplah aku dewi, lelaki yang terlupakan, kelana tanpa huma apalagi istana, untuk kuberikan padamu saja,...andai engkau menerima...mungkin aku hanya penyair yang fakir, akan kehadiranmu, yang menumbuhkan seribu kata-kata baru ditaman hatiku, hanya sebatas itu,...ah..lupakanlah...ini hanya racauan, lelaki kesepian yang mabuk kepayang...

*

aku lapar kasihsayangmu itu, andai engkau merasakannya juga dewi, andai tak ada kata andai, semua usai...bahagilah,...biar saja hatiku patah, tersenyumlah dewi, kepada mereka yang lebih membutuhkannya, bagiku senyumanmu hanya pilu, ...tak terjangkau otak kecilku, sesuatu hal yang manis namun teramat palsu karena engkau tak membalas,...dan aku iklas dewi,...biarlah wajahmu tak ada lagi,...dijalanku yang sepi,...biarlah ragamu pergi dari pandangku yang sunyi...dewi,...menikahlah dengan orang yang kau puja dan puji, ...dengan seluruh angan jiwamu...aku rela melepasmu pergi dewi, dari sini...dari lubuk terdalam jiwaku...selamanya ...

*

perjumpaan, mengapa harus ada saat itu...saat ku jumpa dirimu,...dari mana rasa sayang ini,...ketika malam sepi dan ku tak henti memikirkanmu...

*

jika aku bersalah hukumlah
karena peduli padanya
karena mencintainya
karena membela perasaan didada

jika aku bersalah hukumlah,
saat aku mencintainya, dan ia tak merasakan hal yang sama

jika aku bersalah hukumlah

tuhan yang maha baik,...

karena memaksamu dalam doaku, agar dia dan aku bersatu...

Maka, jika aku bersalah hukumlah

*

biarlah, bayangmu terbakar bersama debu-debu, jalanan kota yang menguap dan berteriak...biarlah namamu terhapus dari sejarah hidupku...biarlah kamu pergi..pelanpelansaja...seperti judul sebuah lagu yang sering kau nyanyikan...

ya berat ...memang melupakan orang yang kau sayang, saat kau berjumpa dia di tempat dan waktu yang salah

*

ku sematkan harapan pada separuh mimpi yang tersisa...dedaun angan yang tanggal dari pohon keinginan

*

ah mengapa kau harus ada, diantara sejarah kecil hidupku dan meninggalkan kenangan disana,...kini semuanya takkan pernah sama...

*

malam ini, ku ingin segelas anggur, dan sebait melodi...entahlah...aku ingin mengingatmu atau melupakanmu...yang jelas aku benci perasaan ini,...ingin menyayangimu, karena aku mencintaimu, atau ingin memusuhimu karena kau tak membalas cintaku...mengapa kamu harus ada...mengapa kita harus jumpa, namun tak menjadi apa-apa, atau sekedar kenangan sebagai teman biasa saja...yang mudah kau lupa....aku menyesal mengenalmu,...menyebut namamu dimalam-malamku begitu merindukanmu,...aku benci mimpi-mimpiku, dimana engkau selalu berkata iya disitu,...dan kau selalu mau,...aku muak,...berteriak...ah,...

*

pedih Tuhan, seperti disayat beribu bilah sembilu, mengapa kau cintakan manusia dengan hati yang dapat hancur oleh kepedihan yang dalam,...kesedihan yang diam, karena hati tak dapat berkata-kata dengan sendirinya, ia hanya bisa sebatas merasa saja...

*